WARGAGRESIK.id – Sebagai pengunjung setia tradisi Pasar Bandeng Gresik dari tahun ke tahun, ada beberapa hal yang mengganggu benak saya. Dari sekian persoalan, salah satunya adalah tentang jajanan. Sampai-sampai saya jadi kurang bisa menikmati suasana ketika jalan-jalan. Gara-gara fokus saya teralihkan untuk mencermati stan-stan yang berdagang jajanan.
Secara tradisi, pengertian Pasar Bandeng sendiri secara umum merupakan kegiatan jual beli ikan bandeng yang digelar di bulan Ramadan jelang lebaran. Tujuan utamanya adalah berburu bandeng kawak yang biasa disajikan sebagai makanan khas lebaran. Tradisi ini sudah digelar sejak era Giri Kedaton. Awal mulanya, tercipta dari kebiasaan para santri membawa pulang bandeng sebagai oleh-oleh selepas beriktikaf di Gresik.
Tradisi ini memang pada awalnya hanya seputar aktivitas jual beli bandeng saja. Lalu, seiring berjalannya waktu Pasar Bandeng berkembang menjadi sebuah perayaan besar yang meriah. Digelar besar-besaran oleh pemerintah dan menjadi warisan budaya. Kondisi ini pun akhirnya menarik pedagang komoditas lain untuk berjualan di sana. Salah satunya adalah penjual jajanan.
Karena tradisi ini bermarwahkan kebudayaan Gresik, tentu saja secara konsep muatan-muatan di dalamnya sudah pasti berlandaskan kearifan lokal. Dalam upacara seremonial, misal. Ataupun dalam gelaran pertunjukan untuk hiburan. Namun sayangnya untuk persoalan tata kelola jajanan, bagi saya gak sesuai harapan. Saya menyarankan harus didandani total. Bahkan, saya sudah sampai di tahap enek.
Bagaimana tidak, dari tahun ke tahun Pasar Bandeng diadakan, dari ratusan stan yang disediakan, isinya kebanyakan jajanan yang sedang viral di media sosial tapi gak variatif. Misalnya, penjual sosis bakar, corndog, dan es kepal yang menumpuk berderet-deret di sepanjang jalan. Jajanan itu sudah pasti gak ada hubungannya sama sekali dengan kebudayaan lokal. Kalau mau dihubung-hubungkan pun, mungkin penjualnya saja yang bisa dianggap lokal, hehe.
Kendati demikian, bukan berarti penjual jajanan viral tidak boleh sama sekali berjualan. Justru harus ada lantaran segmen ini biasanya memantik banyak orang untuk datang. Bahkan, terkadang hal ini menjadi alasan utama bagi seseorang untuk pergi ke sebuah festival, acara, atau pagelaran. Cuman, harus ada pembatasan. Bisa terkait jumlah atau radius tertentu.
Sementara itu, karena Pasar Bandeng adalah mata budaya Gresik, maka seyogianya bersesuaian dengan konsep kebudayaan lokal atau yang berbau khas kedaerahan. Termasuk dalam hal jajanan. Selama ini belum ada sentra khusus jajanan atau kuliner khas Gresik yang dibikin secara apik, skala yang lebih besar, dan konsisten. Paling yang pernah ada dan dibikin, penyelenggara cuma menghadirkan perwakilan dari dinas atau desa maupun kelurahan tertentu untuk buka stan.
Padahal, kalau berbicara tentang jajanan atau kuliner khas Gresik, tentu saja banyak sekali yang bisa dimunculkan. Bahkan, menurut saya tiap kecamatan di Gresik punya hal itu. Atau kalau tidak mau repot, bisa dicoba dari yang sudah populer dan legendaris, selain nasi krawu tentunya, karena sudah banyak yang berjualan. Seperti sego roomo, bubur masin, arang-arang kambang, kupat keteg, bandeng keropok, pudak, jubung, ayas, bonggolan, koncok-koncok, dan masih banyak lagi. Biar gampang, semua itu disentralisasikan di satu tempat.
Sebagai pengunjung setia Pasar Bandeng, saya berharap gelaran tahun ini ada perubahan atau sesuatu yang menarik. Terutama soal jajanan. Sekali lagi, saya sudah enek melihat jejeran sosis bakar, corndog, dan es kepal yang jujur terlalu banyak. Saran buat penyelenggara, ajaklah warga yang memang sudah berjualan jajanan khas di wilayah mereka untuk membuka lapak di Pasar Bandeng dengan iming-iming mendapat potongan harga sewa stan. Saya yakin, dengan adanya mereka di Pasar Bandeng akan semakin memperkuat legitimasi tradisi Pasar Bandeng Gresik sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
