WARGAGRESIK.id – Sebuah kabupaten pasti memiliki ibu kotanya sendiri. Ibu kota kabupaten ini lazim disebut sebagai “kota”-nya di wilayah tersebut. Misal, di Kabupaten Lamongan “kota”-nya adalah Kecamatan Lamongan selaku ibu kota kabupaten, maka disebut sebagai Lamkot (Lamongan Kota). Dijadikan kota atau ibu kota lantaran pusat pemerintahan, administrasi, dan perekonomian berada di wilayah tersebut.
Persis seperti Kabupaten Gresik. Di sini, ibu kota dan “kota”-nya adalah Kecamatan Gresik. Meski dalam praktiknya meliputi sebagian Kecamatan Manyar dan Kebomas- juga, namun harus diakui Kecamatan Gresik adalah “kota”-nya Kabupaten Gresik, sehingga dijuluki sebagai Greskot atau Gresik Kota.
Julukan ini sudah ada sejak dahulu hingga sekarang. Penggunaan maupun penyebutannya sudah berlangsung cukup lama di masyarakat. Dari kegunaan untuk “gojlokan” dalam membedakan warga Gresik pinggiran atau kota, pembangunan pandangan sosial tentang pergaulan, hingga sebagai patokan radius lokasi COD (Cash On Delivery) jual beli atau transaksi online.Akan tetapi, sebagai warga yang tinggal di Greskot, saya rasa sebutan Greskot untuk Kecamatan Gresik ini sudah tidak relevan. Kok bisa? Setidaknya ada beberapa alasan yang mendasarinya.
Bukan Lagi Pusat Pemerintahan
Jika dilihat dari apa yang ada saat ini, pusat pemerintahan Kabupaten Gresik bisa dibilang hampir tidak ada lagi di Kecamatan Gresik. Hanya menyisakan gedung DPRD dan beberapa kantor dinas saja. Sementara Kantor Bupati Gresik dan dinas-dinas lainnya kebanyakan sekarang berada di Kecamatan Kebomas.
Bahkan, dari informasi yang beredar, gedung DPRD itu direncanakan akan dipindahkan juga ke Kecamatan Kebomas. Hal ini dilakukan lantaran lokasi saat ini dianggap tidak representatif, sempit, dan minim tempat parkir. Sangat masuk akal jika dipindahkan. Tujuannya jelas, agar berdekatan dengan perkantoran lainnya.
Oleh karena itu, Greskot sudah tidak layak lagi disebut sebagai pusat pemerintahan. Bagaimana tidak, kantor bupati tidak ada di situ, gedung DPRD ada wacana dipindahkan, dan yang terhitung masih baru, kantor polisi resor kabupaten juga telah berpindah lokasi. Lagi-lagi di Kecamatan Kebomas.
Bagi saya selaku warga Greskot, perpindahan kantor-kantor pemerintahan dan komponen penting lainnya adalah tanda bahwa Greskot bukan lagi pusat pemerintahan. Malah menurut saya, lebih cocok disebut sebagai kota lama saja. Lantaran di Greskot masih banyak tersebar peninggalan-peninggalan berupa kantor, gedung, dan bangunan bekas masa kejayaan “Kota Gresik” di masa lalu yang tentunya kurang representatif jika digunakan di masa sekarang.
Kantor Pelayanan Publik Mayoritas Berada di Kecamatan Kebomas
Sebagaimana diketahui, fungsi ibu kota salah satunya adalah sebagai pusat tempat penyelenggaraan pelayanan publik. Entah untuk pengurusan pajak, perizinan, atau administrasi lainnya. Dan Kecamatan Gresik tidak dapat lagi mengakomodasi semua itu. Hampir semua yang dianggap vital berada di di Kecamatan Kebomas.
Mal pelayanan publik (MPP), misalnya. Kantornya berada di wilayah Kecamatan Kebomas. Di dekat kantor bupati. MPP ini sangat vital, karena menjadi tempat berlangsungnya kegiatan atau aktivitas penyelenggaraan pelayanan publik atas barang, jasa dan/atau pelayanan administrasi yang merupakan perluasan fungsi pelayanan terpadu dalam rangka menyediakan pelayanan yang cepat, mudah, terjangkau, aman, dan nyaman. Berikutnya, urusan perpajakan. Di Kabupaten Gresik, kantor pajak berada di Kecamatan Kebomas.
Oleh karenanya, saya yang warga Greskot ini kalau ada urusan yang mengharuskan datang ke kantor pajak atau urusan administratif lainnya di MPP, ya jadinya mau tidak mau harus melakukan perjalanan ke luar ibu kota deh, hehe. Di sisi lain, saya sempat membayangkan bagaimana jika semua kantor pelayanan publik itu berada di Greskot, wah, sudah pasti lebih satset tentunya.
Adanya Pergeseran Kawasan Ekonomi
Kabupaten Gresik dikenal sebagai Kota Industri. Beberapa perusahaan besar ada di dalamnya. Di antaranya pabrik semen, pupuk, cat, minyak goreng, mie instan, perabotan rumah tangga, sarung, dan lain sebagainya. Coba kalian cek barang-barang yang ada di rumah kalian, saya tebak kemungkinan itu produksi Gresik.
Semua perusahaan besar itu rata-rata berdomisili di sekitar Gresik Kota. Otomatis, aktivitas ekonomi dan bisnis ramai di sana. Perumahan bagus, pasar kota, pusat perbelanjaan, restoran, kafe, hotel, dan lainnya semua ada di Gresik Kota. Tapi, tren itu kini mengalami pergeseran wilayah.
Sekarang, industri di Gresik tidak hanya di Kota saja. Pabrik-pabrik besar juga tumbuh subur di selatan. Apalagi, Gresik kini punya kawasan industri baru. Letaknya di Kecamatan Manyar di daerah utara alias Pantura. Namanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik atau Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE). Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2021, JIIPE resmi menjadi kawasan terintegrasi pertama di Indonesia. Banyak perusahaan besar buka pabrik di sini. Smelter PT Freeport Indonesia salah satunya.
Melihat percepatan industri yang terjadi sekarang dan nanti, resmi menjadikan Gresik Kota bukan lagi satu-satunya wilayah industri di Gresik. Pabrik-pabrik besar sudah bertebaran di selatan dan utara, bahkan bisa saja akan merambah penuh ke barat. Jika kejadian, fix, sebutan Kota Industri untuk Gresik akan semakin legit.
Oleh karenanya, selain faktor pusat pemerintahan yang bergeser, faktor kawasan industri yang berkembang juga sedikit banyak mempengaruhi aktivitas ekonomi dan bisnis di wilayah tersebut. Contoh, dulu Gresik tidak punya mall yang beneran mall. Adanya, pusat perbelanjaan yang cosplay jadi mall (meski saat ini beneran dinamakan mall). Sekarang, sudah ada dua mall besar berdiri di Gresik. Keduanya, ada di Kecamatan Kebomas. Bisnis yang lain pun akhirnya ikut tumbuh di area tersebut. Seperti perumahan bagus, kafe, hotel, restoran, dan lainnya.
Untuk itu, setelah melihat beberapa faktor tersebut, saya rasa sebutan Gresik Kota atau ibu kota kabupaten untuk Kecamatan Gresik sudah tidak lagi relevan. Menurut saya, diganti Kecamatan Kebomas saja. Pusat pemerintahan, pelayanan publik, serta aktivitas ekonomi dan bisnis mayoritas ada di sana semua. Kalau beneran diganti, sebut saja Kecamatan Kebomas dengan Maskot alias Kebomas Kota.
