Oleh: Dewi Musdalifah*
Hari raya datang dengan keramaian yang khas: tanya jawab, suara komentar bersahutan, cerita berulang seperti katarsis singkat, bahkan tawa yang kadang dipaksakan agar suasana tetap hangat. Semuanya bergerak tanpa jeda.
Di tengah itu, aku justru merasa oleng, bukan karena tidak mampu mengikuti, tetapi karena ada jarak yang tidak lagi bisa dijembatani.
Dari situ aku tersadar: mungkin bukan dunia yang berubah, tapi ritme diriku yang telah bergeser. Keramaian seperti cermin, memantulkan kembali rasa sepi yang lama hadir, namun belum benar-benar kubaca.
Pada awalnya, kesepian terasa seperti kehilangan yang pelan. Tidak gaduh, tapi menggerus. Hidup tetap berjalan, keluarga, pekerjaan, percakapan, namun ada bagian yang tidak lagi penuh.
Kesepian hadir bukan karena ketiadaan orang, melainkan karena kedalaman tidak lagi muncul dengan cara yang sama.
Lalu terjadi pergeseran yang hampir tak terlihat. Bukan situasi yang berubah, melainkan cara aku berdiri di dalamnya.
Kesepian berhenti sebagai kekosongan yang harus diisi, dan mulai terbaca sebagai ruang yang tidak lagi dibebani tuntutan.
Energi yang dulu keluar untuk memenuhi peran dan menjaga relasi perlahan kembali ke dalam. Relasi tetap ada, tetapi tersaring. Yang ditinggalkan bukan orang, melainkan kebisingan yang tidak lagi relevan.
Kesendirian membuka ruang. Bilik-bilik yang dulu penuh oleh suara luar mulai dibisukan.
Keputusan tidak lagi dinegosiasikan. Ia dirumuskan sendiri. Bekerja tetap berjalan, dengan alasan yang berubah. Bukan untuk dilihat, tetapi karena memang perlu dikerjakan.
Yang terasa kemudian adalah keheningan yang bersih, tidak hampa.
Maka di lebaran kali ini, aku mulai berpikir ulang tentang mudik. Bukan sekadar kembali ke kampung, atau menelusuri asal-usul yang kasat.
Ada bentuk pulang lain yang lebih sunyi: masuk ke dalam diri sendiri. Mudik, pada akhirnya, bukan hanya perjalanan geografis. Ia menjadi gerak ke arah yang lebih dalam menuju kesunyian yang jujur.
Di sana, tidak ada yang perlu ditampilkan atau dijelaskan. Hanya pertemuan yang tenang dengan diri sendiri.
Dari situ, rasa syukur muncul. Ritme terbaca, yang tersisa bukan keramaian, bukan pula kesepian. Melainkan posisi yang tepat di dalam hidup.
Dan mungkin, inilah pulang yang selama ini kucari, saat diri terasa tidak asing.
*Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik
