Oleh: Irfan Akbar*
Ketika berada di Gedung Olahraga (GOR) Tridharma Gresik hendak menuju perlimaan yang terdapat patung gajah bernilai kurang lebih satu miliar itu, kamu akan melewati sebuah perumahan dengan tembok menjulang di sebelah kiri jalan.
Barangkali, tidak lebih besar dari tembok Konstatinopel yang kokoh dari hunjaman meriam. Namun, cukup ketat dalam penjagaan. Pihak keamanan berjaga sepanjang waktu, untuk memastikan siapa yang keluar masuk dengan menahan kartu identitasnya.
Kita mengenalnya sebagai Perumahan Petro—sepertinya rumah dinas bagi pegawai Petrokimia. Tempat itu, dalam beberapa dekade yang lalu, tepatnya sebelum tahun 2012, merupakan salah satu jujugan bagi remaja Gresik di wilayah kota. Ada banyak alasan pergi ke sana, salah satunya yang pasti adalah urusan asmara (pacaran).
Tatkala Gresik belum ditumbuhi banyak kafe seperti sekarang, Perumahan Petro adalah jawaban. Tak lain dan tak bukan, disebabkan oleh adanya keberadaan Petro Park (baca: Taman Petro) yang menyenangkan. Sebuah tempat yang menyediakan kawasan bermain, sudut-sudut yang terdapat pedagang, dan juga lapangan sepak bola yang besar.
Seringkali, waktu-waktu tertentu seperti sore dan khususnya Minggu pagi, Taman Petro cukup dipenuhi muda-mudi. Seperti di bioskop. Mereka memilih tempat duduk paling khusyuk untuk menikmati pemandangan yang entah apa. Mungkin juga tidak penting apa yang dilihat, namun lebih kepada dengan siapa menghabiskan waktu di sebuah tempat—bagi pasangan yang dilanda asmara.
Selain jarang adanya tempat nongkrong dalam dekade itu, alasan finansial juga menjadi faktor penting. Pacaran di Taman Petro sejak siang hingga sore dirasa lebih ideal secara pengeluaran dibandingkan tempat lain. Lantaran dengan modal lima puluh ribu rupiah, kita sudah bisa nggaya membelikan pentol dan jajanan lainnya untuk pasangan.
Alasan lain, ketika Minggu pagi, mereka memilih joging dengan outfit terkeren pada saat itu, seolah-olah menyamar sebagai pensiunan Petro yang financial freedom. Celana training, memutar MP3 melalui Walkman, jaket Adidas, lalu berhenti di lapangan basket Taman Petro untuk membeli batagor atau pilihan jajanan kerakyatan lainnya. Sampai sini kita bisa paham, bahwa olahraga dan njajan dipaksa berimbang.
Taman Petro pada masa kejayaannya bisa dibilang spot wajib bagi anak skena dan kalcer (dalam pengertian sekarang) untuk mempergaul kehidupan. Di sana terjadi melting pot banyak sosiokultural. Dari adu outfit, adu pasangan, hingga tanding sepak bola antarsekolah maupun kampung—dengan uang pinggiran maupun tidak, serta sebagai panggung tepe-tepe alias tebar pesona kawula muda. Satu lagi yang sering, menjadi lokasi untuk janji temu remaja yang berkenalan melalui mIRC, mxit, mig33, Friendster, dan yang paling aktual adalah Facebook.
Zaman sudah makin modern. Kejayaan Taman Petro sudah selesai. Interaksi sosial semakin berkurang. Sebab sudah kalah cepat dengan media sosial. Kerinduan dihapuskan oleh fitur bernama video call. Cetak foto tidak lagi penting, karena tradisi berkirim pap lebih mudah dan bebas biaya.
Sudahlah. Kini Taman Petro hanya menjadi sejarah. Mungkin secara kasat mata bangunan masih ada. Tapi tentu dengan fungsi yang telah berbeda. Di tempat terbaik itu, berbagai kenakalan remaja pernah mewujud dan membekas jelas di ingatan.
*Warga Boboh, Kecamatan Menganti yang hingga kini getol mengamati perangai muda-mudi Gresik
