Oleh: Nur Faqih*
Dengan kover seorang perempuan muda memejamkan mata sedang menggendong ikan bandeng mati yang matanya melotot, menarik saya ikut memelototi buku Buah Naga Lauk Ikan Pindang. Kumpulan esai karya Dewi Musdalifah, seorang penulis yang berkecimpung di banyak “dunia” ini, ingin menjadikan bukunya sebuah danau luas berisi air jernih menyegarkan untuk memberikan tegukan kontempelatif bagi pembaca.
Dalam buku yang terdiri 11 bagian dan 48 judul tulisan ini bisa diketahui bahwa Dewi Musdalifah adalah seorang pegiat seni, sastra, dan budaya. Dia juga penulis cerpen, pecinta dan penggerak literasi, guru konselor, kurator seni, motivator, aktivis pendampingan, dan melakukan kerja jaringan antarpekerja seni di dalam dan luar negeri.
Dalam satu buku terbitan Pagan Press tahun 2026 ini, pembaca bisa mendapatkan ilmu, wawasan, pengetahuan, dan pengalaman beragam yang bisa menjadi kunci memasuki dunia ilmu yang lebih fakultatif.
Pengalaman pertama yang cukup menggoda adalah saat membaca bagian pertama (Kausa Prima) yang dibuka dengan dua tulisan tentang kematian dua orang dan pada bagian akhir atau bagian kesebelas (Memorabilia) ditutup dengan dua tulisan tentang kematian dua orang juga. Dibuka dan ditutup dengan tulisan kematian, timbul pertanyaan. Apakah isi buku ini semuanya berbicara soal kematian?
Kalau mati dimaknai secara harfiah yakni tercerabutnya nyawa seseorang, tentu tidak, karena hanya 7 dari 48 esai yang membahas tentang kematian. Tetapi kalau mati dimaknai secara kontekstual, berlalunya sebuah waktu dan peristiwa, maka bisa sahih, sebab sebanyak 41 tulisan dalam buku ini adalah berbicara tentang peristiwa masa lalu yang tidak akan terulang kembali, seperti orang mati yang tidak bisa hidup lagi. Namun semangat di balik kejadian yang sudah “mati” itu tetap hidup sebagai lesson learn.
Tulisan “Ibu, Perempuan Petarung” (Halaman 3) adalah kisah nyata terkait dengan kematian yang dimaknai secara tekstual dan kontekstual. Hikmah di balik dari kisah ini sebagai penegas bahwa hidup adalah perjuangan yang tidak boleh menyerah dengan keadaan. Itu dibuktikan oleh seorang anak perempuan yang sejak kecil ditinggal pergi orang tuanya.
Bapak pungutnya mengasuh dengan kekerasan dan cambukan. Penderitaannya mulai berkurang setelah menikah. Namun setelah suami wafat meninggalkan lima orang anak yang masih kecil, janda itu menjadi petarung hebat mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya. Dia menjadi jenderal yang wajahnya tak memberi ruang senyum dan tawa, maka ketika ditemukan foto ibu sedang senyum dirawatnya sebagai harta warisan paling berharga.
Bagi penulis, senyum menjadi kekuatan yang diandalkan untuk melakukan perubahan. Hal ini dibuktikan saat penulis menemani anak-anak berkebutuhan khusus, seperti Melani, Wanda, dan Windi (“Sisi Batin” halaman 187). Melani dengan beragam masalah fisik yang dialami, hidupnya cenderung terisolasi, tingkat kepercayaan dirinya sangat rendah, selalu curiga dengan teman baru. Anak-anak seperti itu sering membuat orang tuan malu dan akhirnya memproteksinya dari lingkungan sekitar.
“Kamu manis sekali, apalagi jika sedang tersenyum, aku menikmatinya,” begitu kata penulis saat mengajaknya berbicara.
“Jika kamu ingin diterima oleh lingkunganmu, jangan pernah lupa melepas senyum dari bibirmu,” lanjutnya.
Dengan memberinya ruang berbicara, Melani berubah menjadi manusia yang bisa menerima dan diterima lingkungannya. Begitu pula dengan dua anak tuna netra, Wanda dan Windi yang disimpulkan tidak ada manfaat merawat keduanya. Namun dengan memaksimalkan daya pikir, rasa, intuisi, dan kreativitas, guru konselor ini membuat kedua anak itu mengalami perubahan besar. Kedunya sejak dini sudah membicarakan masa depannya dengan bercita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an dan penulis hebat.
Berbicara tentang Al-Qur’an, menyegarkan ingatan penulis tentang sosok sang ayah (“Buku Yang Disisakan Bapak”, halaman 6). Meski tidak menempuh pendidikan tinggi, ayahnya adalah seorang pembelajar. Koleksi bukunya cukup banyak termasuk kliping berita koran yang dibaca sambil nyeruput kopi di warung.
Saat keluarga membutuhkan uang, semua koleksinya itu dijual, hanya menyisakan satu buku Samudra al-Fatihah. Sang ayah sepertinya ingin berpesan agar anak-anaknya membaca satu-satunya warisan yang disimpan di dalam lemari. Buku karya Bey Arifin ini dijadikannya teman untuk membiacarakan berbagai persoalan dalam membangun kesalehan ritual maupun kesalehan sosial.
Kerja pendampingan merupakan praktik dari kesalehan sosial yang bernilai kesalehan ritual, sehingga saat mendampingi anak-anak Gresik Movie yang berencana membuat film anak-anak berjudul Gemintang di Kota Gresik (halaman 157), ada sesuatu yang hampir tidak bisa dinalar. Proses produksinya cukup lama dan kalau tidak karena ada tangan Tuhan terlibat di dalamnya, kemungkinan besar film anak-anak ini tidak bisa berbicara banyak dalam Marche du Film, bagian dari Festival de Cannes, Prancis yang kemudian disusul penayangannya dalam Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) di Australia.
Menikmati pekerjaan sering membuat diri kita lepas kendali. Tenaga, pikiran dan fisik dipertaruhkan secara total untuk urusan besar sampai lupa bahwa dalam pergulatan itu ada urusan yang lebih besar yang selalu dibiarkan memikul beban batin, yaitu tubuh. Makan dan minum enak-enak pun akhirnya menjadi pelariannya. Akibatnya, obesitas, kolestrol, asam urat dan ancaman hadirnya penyakit degeneratif sering membuat semua orang cemas.
Tulisan “Buah Naga Lauk Ikan Pindang” (halaman 171) merupakan inspirasi paling menarik untuk dibaca agar lebih mengerti cara menghargai tubuh. Dengan menjadikannya sebagai sahabat, tubuh paling senang diajak berbicara. Ketika tubuh sakit bertanyalah kepada tubuh; ada apa, bagian mana yang lelah, bagaimana aku bisa membantu? Tubuh akan menjawab dengan caranya sendiri dan jadilah pendengar yang baik agar otak mencari tahu, hati memberi ruang agar tubuh menemukan jalan untuk mendetoksi dirinya sendiri.
Melalui dialog penuh kelembutan, semakin mengerti keinginan tubuh dan mempersilakan kita untuk menikmati buah naga dengan lauk ikan pindang, soto berdampingan dengan pepaya, pisang dimakan bersamaan dengan bandeng bumbu bali. Semua rasa keluar dari persembunyiannya, memperlihatkan keindahan hidup.
“Dan aku pun belajar, bahwa ketika tubuh didengarkan ia tidak hanya sembuh, namun juga mengajarkan kita cara mencintai hidup”.
*Budayawan Gresik
