Oleh: Irfan Akbar*
“Itu rumah mantan wakil presiden, Fan. Zamannya Pak Harto.”
Kalimat itu pernah dilontarkan oleh ibu saya ketika kami melewati tikungan Cerme, dalam perjalanan dari Morowudi menuju Gresik Kota.
Sejak saat itu, pernyataan tersebut terus berdengung, menemani rute ulang-alik saya—dari rumah ke sekolah, lalu ke tempat kerja—sejak masuk SMP pada 2003 hingga sekarang. Setiap melewatinya, saya selalu spontan menoleh. Rasa penasaran mengerubuti pikiran: seperti apa isi di dalam rumah itu.
Nama mantan wakil presiden tersebut adalah Soedharmono. Letnan Jenderal (Purn.) yang kiprahnya dimulai sejak masa perang kemerdekaan. Karier militernya berangkat dari Divisi Ronggolawe yang pernah ia pimpin, setelah turut membantu mengumpulkan senjata dari tentara Jepang dalam persiapan pembentukan Tentara Nasional Indonesia. Peran itu terus ia jalankan selama Perang Kemerdekaan Indonesia melawan pasukan Belanda yang kembali menyerang.
Perjalanannya hingga menjadi Wakil Presiden ke-5 Republik Indonesia pada periode 1988–1993 juga menempuh jalan panjang. Pak Dhar, begitu ia kerap disapa, sebelumnya telah lama berada di lingkar pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Kabinet sekaligus Sekretaris Dewan Stabilitas Ekonomi (1966–1972). Kemudian, dari 1972 hingga 1988, ia menjadi Menteri Sekretaris Negara. Ia juga sempat menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri selama satu tahun, yakni pada 1982–1983.
Sebagai tokoh pada masa Orde Baru, Pak Dhar tidak lepas dari guncangan politik. Ia pernah dituduh terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Tuduhan itu dilayangkan dengan alasan keterkaitannya dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), yang kemudian bertransformasi menjadi Pemuda Rakyat (PR), organisasi yang dekat dengan PKI.
Sebagai warga Gresik, saya selalu menaruh kagum dan hormat pada orang-orang yang berjuang. Begitu pula kepada Pak Soedharmono. Meski tidak pernah bertemu secara langsung, saya beberapa kali membaca dan mendengar kisah tentang pria kelahiran Cerme, 12 Maret 1927 tersebut.
Namun, mengingat Soedharmono barangkali tidak cukup jika hanya disimpan sebagai cerita keluarga—semacam trivia yang muncul setiap kali kita melewati tikungan Cerme. Sebab besar kemungkinan, tidak cuma saya yang memiliki ingatan demikian. Andai saja salah satu di antara Jl. Raya Cerme Kidul dan Jl. Raya Cerme Lor digubah menjadi Jl. Soedharmono, hal ini bisa menjadi metode dalam belajar sejarah secara diam-diam. Orang akan lebih sering mengucapkan, menuliskannya, mengulangnya berkali-kali, tanpa pernah sadar bahwa sedang mengingatnya.
Tentu, ini bukan semata soal menghargai seorang figur atas jabatan yang pernah ia sandang. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menghubungkan kembali Gresik dengan warganya sendiri—mereka yang lahir dari tanah ini. Barangkali, dengan mempertimbangkannya sebagai nama jalan, kita juga membuka pintu masuk untuk membaca kembali sejarah yang mungkin masih terasa abu-abu.
Meski sampai saat ini, saya bahkan belum menemukan secara pasti apakah Pak Dhar telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atau belum. Namun, jika menilik ke sekitar, kita bisa melihat bahwa sejumlah jalan di Gresik telah lebih dahulu menggunakan nama tokoh-tokoh tertentu—sebut saja Jalan Harun Thohir, Jalan Usman Sadar, hingga yang relatif baru seperti Jalan Siti Fatimah binti Maimun. Artinya, memberi nama jalan dengan merujuk pada figur tertentu bukanlah hal baru. Ia sudah menjadi bagian dari cara kota ini menyusun ingatannya sendiri.
Maka, sekali lagi, mempertimbangkan nama Soedharmono sebagai nama jalan bukan sekadar upaya mengenang seseorang. Lebih jauh, ini adalah cara warga memilih bagaimana ingatan kolektif itu disusun. Jika demikian, pendapat ini tentu tidak berhenti pada Pak Dhar semata. Ia bisa menjadi pintu awal untuk melihat kembali figur-figur lain yang memiliki peran dalam membentuk Gresik dan warganya—nama-nama yang mungkin selama ini hanya hidup dalam cerita, tetapi belum menemukan tempatnya di ruang kota.
*Warga Boboh, Kecamatan Menganti yang hingga kini getol mengamati perangai muda-mudi Gresik
